JAKARTA, KOMPAS.TV - Pakar keamanan siber CISSReC, Pratama Dahlian Persadha, mengungkap bagaimana komunikasi Presiden Prabowo Subianto dapat dipantau melalui sistem Lawful Interception Management System atau LIMS.
Pratama menjelaskan, LIMS terhubung dengan sistem operator dan berfungsi seperti mirroring terhadap aktivitas komunikasi yang berlangsung di jaringan telekomunikasi.
"Jadi kayak nyolok lah ke operator, kalau nyolok ke operator kan kita bisa tahu pengguna operator tersebut siapa saja. Kemudian nomor-nomor mana yang ada di dalam operator tersebut," ujar Pratama. (timecode 00:43)
Ia menjelaskan, kemampuan LIMS memiliki keterbatasan.
Sistem ini dapat menangkap komunikasi melalui jaringan GSM, termasuk panggilan telepon dan SMS, tetapi tidak dapat mengambil isi percakapan dari aplikasi berbasis internet seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal.
Meski demikian, LIMS tetap dapat merekam informasi mengenai siapa yang berkomunikasi dengan siapa, termasuk lokasi target.
"Pak Presiden ada di mana pun, jalan ke mana pun itu semua bisa terdeteksi dengan sistem LIMS ini," ungkapnya. (timecode 3:24)
Untuk mendapatkan isi percakapan dari aplikasi pesan, menurut Pratama, diperlukan metode penyadapan lain, seperti penggunaan spyware atau malware yang disusupkan ke perangkat target.
Pratama juga menjelaskan mengapa penyadapan menggunakan LIMS sulit diketahui oleh pemilik nomor.
"Handphone kita nggak diapa-apain, handphone kita hanya berkomunikasi menggunakan BTS. Sehingga handphone kita nggak ada indikasi apa-apa ketika orang itu melakukan penyadapan menggunakan LIMS ini," kata Pratama. (timecode 6:15)
Ia mengingatkan, sistem tersebut rawan disalahgunakan karena aktivitas penyadapan tidak mudah terdeteksi oleh target.
Video Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/nasional/700121/pakar-keamanan-siber-ungkap-mengapa-komunikasi-presiden-prabowo-bisa-disadap