Perang Iran melawan Amerika Serikat masih terbuka meski Trump dan partai Republik kalah dalam pemilu sela yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Meski Trump kalah, namun sang presiden masih punya otoritas untuk melanjutkan perang. Hal inilah yang membuat pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei meyakini Iran harus tetap dalam mode tempur.
Trump diprediksi bakal memicu ancaman eskalasi militer baru dalam jendela waktu 60 hari sebelum pelantikan Kongres pada 3 Januari 2027. Sebagai panglima tertinggi yang memegang hak veto, Trump diprediksi memanfaatkan masa transisi ini untuk melancarkan agresi terkonsentrasi demi mengamankan warisan politik pribadinya sebelum kekuasaannya dikunci.
Membaca ancaman agresi Washington, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di bawah instruksi Mojtaba Khamenei beralih ke doktrin perang gerilya di Selat Hormuz. Dengan mengerahkan drone bawah air bermuatan bom, penempelan ranjau lepek, penembakan RPG, serta pemanfaatan pengamat manusia berkedok nelayan lokal, Teheran terbukti mampu melumpuhkan kelancaran pasokan minyak global.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Nabilah Safirah
Narator: Nabilah Safirah
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
#Global #Konflik ##Kompascomlab #PerangIranVsAS #Iran #AmerikaSerikat #PerangIran #SelatHormuz #DonaldTrump #IRGC
Music: Night_Breach (AI)