Kedatangan kapal kargo asal Boston, Amerika Serikat, yang membawa muatan es batu pesanan Roselie en Co di Pelabuhan Batavia pada 17 November 1846 sempat memicu kehebohan besar dan membuat petugas bea cukai kebingungan menentukan aturan pajak impor. Es batu kala itu merupakan barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan elit Belanda di kawasan Weltevreden dan Meester dengan harga 10 sen per 500 gram, bahkan melahirkan ide bisnis unik berupa penjualan selimut wol untuk membungkus es agar tidak cepat cair serta penyajian air es pertama di Hotel des Indes pada perayaan Natal 1846.
Euforia es batu impor yang juga sempat dimanfaatkan pemerintah Hindia Belanda sebagai obat sariawan bagi tentara dengan menggelar sayembara berhadiah ribuan gulden akhirnya berangsur surut menjelang tahun 1880 menyusul masuknya teknologi pendingin amonia dari Eropa. Era baru pun dimulai dengan berdirinya pabrik-pabrik es lokal di Batavia oleh para pengusaha lokal yang membuat es batu kini dapat dinikmati oleh masyarakat luas dengan sangat mudah.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Host: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Darojatun Athoilah
Videographer: Adinda Septia Berliana
Produser: Elisabeth Putri Mulia
Music:
Path of the Ancient (AI)
The Archipelago Jour (AI)
The Clear Horizon (AI)
#Humaniora #budaya ##newsdaily ##cclab #sejarah #esbatu #sejarahesbatu #batavia