Fenomena mikro drama China (duanju) berdurasi 1-3 menit kini menjadi mesin uang raksasa dengan pendapatan menembus 50,44 miliar Yuan (sekitar Rp 125,5 triliun) pada 2024 dan diproyeksikan terus melonjak. Mengusung alur dramatis berunsur pembalasan dendam atau pebisnis menyamar, industri ini sengaja merancang efek kecanduan layaknya mesin slot dengan memanfaatkan fitur freemium, putar otomatis, hingga metode re-versioning berbasis analisis data penonton. Tingginya margin keuntungan akibat biaya produksi yang sangat murah dibanding sitkom tradisional kian dipacu oleh penggunaan teknologi AI yang kini memproduksi lebih dari 90 persen konten mikro drama.
Namun, di balik perputaran uang bernilai puluhan hingga ratusan triliun rupiah tersebut, muncul masalah baru seperti kualitas konten yang vulgar, eksploitasi tenaga kerja kreatif, hingga tersingkirnya aktor lokal akibat maraknya peran sintetis buatan AI. Fenomena kecanduan masif ini mendorong otoritas China (NRTA) memperketat kendali melalui kewajiban izin produksi, penghapusan puluhan ribu naskah bermasalah, hingga pemberlakuan label wajib untuk konten AI sejak September 2026 demi menekan dampaknya terhadap publik.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Elisabeth Putri Mulia
Music: Pressed Newsroom No 2 (AI)
#Peristiwa #Viral ##newsdaily ##cclab #Mikrodrama #Mikrodramachina #Dracin #DramaChina #DramaAI