Geliat arus modal global memperlihatkan dinamika menarik ketika lonjakan dana dari orang-orang kaya China mengalir deras ke Amerika Serikat usai Beijing memberlakukan pajak baru secara berlaku surut sebesar 20 persen atas aset luar negeri pada Juli 2026. Para konglomerat memanfaatkan posisi AS yang berada di luar sistem Common Reporting Standard (CRS) OECD sistem pertukaran data keuangan otomatis yang dianut Singapura dan Hong Kong untuk memindahkan kekayaan mereka ke rekening bank dan trust AS demi menghindari jeratan jaring pajak Bejing. Kendati demikian, para ahli hukum mengingatkan bahwa strategi bersembunyi ini sangat rapuh karena jejak pemindahan dana tetap tercatat oleh otoritas.
Di sisi lain, terjadi fenomena berlawanan di mana bank-bank raksasa AS justru gencar memburu pendanaan yuan dengan memecahkan rekor penerbitan obligasi Dim Sum di Hong Kong hingga mencapai puluhan miliar dolar AS. Menjadikan yuan sebagai mata uang pendanaan terbesar ketiga setelah dolar dan euro, bank-bank AS kini mengincar akses modal langsung dari China alih-alih sekadar mengejar suku bunga murah, membuktikan bahwa keterikatan finansial antara Washington dan Beijing tetap menguat dan bergerak dua arah di tengah memanasnya persaingan geopolitik.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia Narator: Elisabeth Putri Mulia Video Editor: Elisabeth Putri Mulia Produser: Elisabeth Putri Mulia