Bursa kripto Binance diguncang insiden peretasan besar-besaran pada Kamis, 29 Oktober 2026, yang mengakibatkan aset digital senilai sekitar 6,3 miliar dolar AS (lebih dari Rp 114 triliun) berhasil dibobol dari hot wallet hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Perusahaan intelijen blockchain TRM Labs mengaitkan serangan yang bermula dari peretasan laptop seorang insinyur ini dengan TraderTraitor, unit peretas disponsori negara Korea Utara yang sebelumnya juga diidentifikasi sebagai dalang di balik peretasan Bybit. Aksi pembobolan ini tak hanya memaksa Binance menghentikan sementara penarikan dana, tetapi juga langsung memicu kejatuhan harga Bitcoin, Ethereum, dan Solana secara tajam di pasar global.
Kendati berpotensi menjadi perampokan kripto terbesar sepanjang sejarah, pihak Binance memastikan akan menanggung seluruh kerugian pengguna dan mengonfirmasi bahwa sekitar separuh dari aset terdampak telah berhasil dibekukan berkat kerja sama dengan penegak hukum serta penerbit stablecoin seperti Tether dan Circle. Para pengamat menilai Binance memiliki bantalan finansial yang cukup melalui dana darurat SAFU untuk menutupi sisa kerugian, meski proses pemulihan dana sepenuhnya diperkirakan masih memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun melalui jalur hukum yang panjang.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Elisabeth Putri Mulia
Music: Wireline Bulletin (AI)
#ekonomi #finansial ##newsdaily ##cclab #Binance #Binancehack #Binancehacked #BTC