BMKG menjelaskan sejumlah faktor yang membuat cuaca di Indonesia terasa panas, mulai dari posisi Matahari pada Oktober, musim kemarau, hingga pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Meski suhu terasa menyengat, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai gelombang panas atau heatwave.
BMKG juga menjelaskan citra NASA yang menunjukkan sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer pada 1921 Oktober 2026.
Warna merah pada peta tidak otomatis menandakan kualitas udara di permukaan memburuk. Untuk mengetahui kondisi udara yang dihirup masyarakat, konsentrasi PM2.5 dari stasiun pemantauan kualitas udara menjadi salah satu indikator penting.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis: Alicia Diahwahyuningtyas
Penulis Naskah: Novyana Nurmita Dewi
Narator: Novyana Nurmita Dewi
Video Editor: Novyana Nurmita Dewi
Produser: Novyana Nurmita Dewi
#Saintek #Sains ##cclabs #HeatWave #MusimPanas #CuacaPanas #BMKG
Music: Pressed Newsroom - (AI)
Artikel terkait:
https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/22/150000465/bmkg-ungkap-penyebab-cuaca-panas-di-indonesia-benarkah-akibat-heat-wave-