Sejumlah pabrik di Iran tetap beroperasi di tengah perang, sanksi ekonomi, tekanan inflasi, dan blokade. Salah satunya adalah Pabrik Perakitan Mesin Pemanen di Arak, tempat para insinyur dan teknisi terus merakit mesin pertanian untuk pasar domestik.
CEO pabrik, Ali Asghar Hamidifar, mengatakan pihaknya telah mengantisipasi risiko perang dengan mengamankan suku cadang penting dari luar negeri. Perusahaan juga mulai memproduksi sendiri komponen yang sebelumnya diimpor untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan asing.
Hamidifar menegaskan industri tersebut berupaya bertahan menghadapi lonjakan harga dan fluktuasi nilai tukar. Namun, perekonomian Iran masih menghadapi tekanan berat akibat inflasi, sanksi Barat, dan penurunan pendapatan minyak selama perang. Nilai tukar rial bahkan dilaporkan merosot ke rekor terendah, yakni lebih dari 2,6 juta rial per dolar AS.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Lina Tiyas Patmulasih
Video Editor: Destri Abdi Saputro
Produser: Mochamad Sadheli (Holy)
#Global #Konflik ##DailyNews #Iran #AmerikaSerikat #PabrikIran #SanksiAS
#Music: Night Breach (AI)