Jumlah perusahaan Jepang yang berbisnis di China merosot tajam ke angka 10.118 per Juni 2026, menjadi yang terendah sejak 2010 akibat ekonomi China yang melambat, kenaikan biaya, risiko tarif, serta memanasnya hubungan diplomatik menyusul isu Taiwan yang membuat karyawan merasa tidak aman. Akibat tekanan tersebut, ribuan perusahaan menarik diri dan mengalihkan fokus bisnisnya ke Amerika Serikat yang secara terbuka mengajak mereka membantu upaya reindustrialisasi, sementara Beijing berupaya menegaskan kembali komitmennya meski sejumlah sektor seperti manufaktur berorientasi ekspor memilih angkat kaki.
Di sisi lain, di tengah krisis penutupan Selat Hormuz yang sebelumnya diprediksi melambungkan harga minyak hingga 200 dolar per barel, China justru menahan lonjakan harga dunia dengan memangkas impor minyaknya hingga separuh atau sekitar 5 juta barel per hari. Langkah strategis yang diduga memanfaatkan cadangan minyak rahasia ini tidak hanya menjaga agar pelanggan ekspornya di negara lain tidak jatuh ke jurang resesi, tetapi juga memperlihatkan kuatnya posisi tawar Beijing di tengah arus keluar investasi asing.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Elisabeth Putri Mulia
Musik: Ticker Loop Brief (AI)
#ekonomi #finansial ##dailynews ##cclab #Iran #MinyakBumi #China #Jepang #ChinavsJepang #ASChina #Trump