Penemuan makam Raja Tutankhamun pada 1922 oleh arkeolog Inggris Howard Carter dan teman pemodalnya George Herbert dan Lord Carnarvor di Lembah Para Raja menjadi salah satu penemuan arkeologi paling penting dalam sejarah. Namun, penemuan harta karun itu dibarengi mitos Kutukan Mumi Tutankhamun setelah Lord Carnarvon dan beberapa orang yang terkait dengan penggalian makam itu meninggal secara mendadak.
Media Barat saat itu menggambarkan peristiwa yang terjadi sebagai pembalasan Firaun. Spekulasi mistis tersebut akhirnya terpatahkan melalui berbagai penelitian ilmiah, termasuk studi British Medical Journal. Studi itu membuktikan tidak ada hubungan antara kehadiran di makam dengan penurunan tingkat kelangsungan hidup para peneliti. Lantas, bagaimana kutukan Firaun berubah menjadi penelitian yang berkontribusi terhadap kesehatan modern?