Di balik kelincahan boneka kayu berbalut kain dan gemuruh tabuhan musik khasnya, terselip jejak luka sejarah yang nyaris menenggelamkan kesenian wayang potehi ke jurang kepunahan.
Selama lebih dari tiga dekade, kesenian tradisional yang telah berabad-abad berakulturasi di Nusantara ini dipaksa tiarap di bawah bayang-bayang represi Orde Baru.
Pemberlakuan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang pembatasan ekspresi kebudayaan dan tradisi Tionghoa di ruang publik sempat memutus pelestarian wayang potehi.
Seni pertunjukan yang semula menghidupkan altar klenteng-klenteng Nusantara seketika terisolasi, hingga memicu trauma kultural antargenerasi.
Ketua Sanggar Wayang Potehi Siopeksan, Andika Pratama (28), mengungkapkan bahwa represi puluhan tahun tersebut menciptakan jurang pemisah yang lebar antara generasi muda dengan identitas budayanya.
Kini sanggar tersebut kembali membangkitkan napas wayang potehi hingga bisa tampil di panggung internasional.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Nursita Sari
Musik: Kolintang Parade (AI)
#KisahInspiratif #Humaniora #Wayang #Budaya #Kesenian #China #OrdeBaru #WayangPotehi #vjlab