JAKARTA, KOMPAS.TV - Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga Jabodetabek dan sejumlah wilayah lainnya.
Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, penerbangan, hingga membuat sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Imbas erupsi Gunung Anak Krakatau, sejumlah bandara ditutup sementara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Bandara Radin Inten II di Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat.
Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
Selain tiga bandara tersebut, lima bandara lain yang ditutup yakni Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe, Bandara Taufik Kiemas, serta Bandara Atung Bungsu.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih memutuskan menutup operasional delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga pukul 24.00 WIB. Penutupan ini bisa diperpanjang sesuai kondisi sebaran abu vulkanik.
Dudy juga menjelaskan, terdapat dua bandara tambahan yang terdampak abu vulkanik hingga operasional ditutup sementara yakni Bandara Taufik Kiemas Lampung dan Bandara Atung Bungsu Pagar Alam. Dengan demikian, total terdapat delapan bandara yang terdampak abu vulkanik.
"Setelah kami melakukan koordinasi maka kami memutuskan bahwa 8 bandara tersebut akan kami tutup sampai dengan pukul 24.00 WIB," ucap Dudy, Minggu (6/9/2026).
BNPB memastikan kondisi Lampung, Banten, Jawa Barat hingga DKI Jakarta kondusif dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Saat ini terpantau arah pergerakan abu vulkanik cenderung menuju Laut Hindia.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB Berton Panjaitan mengatakan, berdasarkan analisis citra satelit, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bergerak ke arah barat mengikuti arah angin, Selasa (8/9/2026).
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/regional/689998/menko-ahy-menhub-dudy-hingga-bnpb-soal-erupsi-anak-krakatau-penyebaran-abu-vulkanik-parasot