KOMPAS.TV – Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan aktivitas vulkanik sejak kemunculannya di Selat Sunda hingga kembali erupsi pada 2026. Perubahan bentuk tubuh gunung dan aktivitas erupsi menjadi bagian dari perjalanan panjang gunung api ini.
Aktivitas tersebut berawal dari erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883 yang menghancurkan kawasan pesisir Lampung dan Banten. Bencana tersebut menyebabkan 36.417 orang meninggal dunia.
Pada 1927, aktivitas erupsi pascaerupsi 1883 melahirkan Gunung Anak Krakatau dengan ketinggian sekitar 305 meter di atas permukaan laut. Pada 1927 hingga 1930, Anak Krakatau terus menunjukkan aktivitas erupsi secara berkala. Pengukuran pada 2007 juga mencatat ketinggian Anak Krakatau mencapai 305 meter.
Pada 2018, ketinggian Anak Krakatau meningkat menjadi 338 meter. Pada 22 Desember 2018, tubuh gunung longsor dan memicu tsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Sebanyak 437 orang meninggal, 154 orang hilang, 14.045 orang terluka, dan 33.721 orang mengungsi.
Pada 2019 hingga 2025, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi berskala rendah dan memasuki fase pertumbuhan kembali. Sejak Juli 2026, Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga. Sebaran abu vulkanik akibat erupsi dapat mengikuti arah angin.
#gununganakkrakatau #krakatau #erupsi #tsunamiselatsunda #sejarah #vulkanologi
Baca Juga [FULL] Waspada Abu Vulkanik, Pakar Jelaskan Gangguan Kesehatan yang Mengintai | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/689395/full-waspada-abu-vulkanik-pakar-jelaskan-gangguan-kesehatan-yang-mengintai-kompas-malam
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/nasional/689397/membuka-jejak-erupsi-anak-krakatau-dari-krakatau-1883-hingga-erupsi-2026-kompas-malam