Kemampuan Iran dengan mudah menembus dan memporak-porandakan pangkalan militer AS di Teluk dinilai sejumlah analisis sebagai bentuk kemajuan perang abad kini. Iran disebut mampu mematahkan doktrin Carter, presiden AS era 1980 yang percaya perluasan pangkalan militer AS di Teluk sebagai bentuk benteng perlindungan dari musuh.
Namun 2026, Iran mengubah menjadi senjata makan tuan bagi para prajurit AS dan negara-negara kawasan. Terbaru, serangan rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang menghantam Pangkalan Udara Prince Hassan dan Kamp Titin di Yordania pada 2 September 2026 telah merusak infrastruktur militer strategis serta membongkar kerentanan pangkalan-pangkalan besar Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Para sejarawan dan analis menilai ini sebagai titik keruntuhan Doktrin Carter yang telah menjadi fondasi pertahanan Washington di Timur Tengah selama hampir empat dekade terakhir, sekaligus menempatkan Presiden Donald Trump dalam situasi dilematis yang menyerupai krisis masa lalu.
Menghadapi kerusakan parah yang diperkirakan membutuhkan biaya hingga lima miliar dolar untuk perbaikan, Gedung Putih dihadapkan pada pilihan pahit antara membangun ulang fasilitas tersebut atau merancang ulang strategi militernya. Sejumlah mantan pejabat pertahanan menyarankan agar Washington tidak perlu membuang anggaran untuk membangun kembali pangkalan yang rentan, melainkan menggeser posisi pasukan lebih jauh ke barat, fokus pada pergeseran jangka panjang seiring berkurangnya urgensi pangkalan regional bagi kepentingan strategis Amerika Serikat.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Red Sirens Overridge (AI)
#global #perang ##kompascomlab #Iran #Amerika #IranvsAS #ASSerangIran #IranSerangAS