KOMPAS.TV - Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Budi Sudaryono, menyebut tingkat peredaran uang palsu di Indonesia relatif rendah. Bahkan, jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain, proporsi uang palsu di Indonesia disebut lebih rendah.
Budi menyebut Australia berada di angka enam PPM, sementara Filipina mencapai 10 PPM.
Meski tingkat peredaran uang palsu relatif rendah, Bank Indonesia terus meningkatkan fitur keamanan rupiah.
Peningkatan dilakukan dari sisi bahan uang, tinta, fitur pengamanan hingga teknik pencetakan.
Salah satu peningkatan yang terlihat pada uang emisi 2022 adalah fitur keamanan yang disebut dynamic motion effect.
Pada uang emisi 2016, terdapat fitur perubahan warna.
Sementara pada uang emisi 2022, fitur pengaman dibuat lebih kompleks. Ketika uang digerakkan, fitur tersebut menghasilkan efek perubahan warna dan gerakan.
Fitur keamanan lain yang ditingkatkan adalah benang pengaman.
Pada uang emisi 2022, benang pengaman tidak hanya mengandalkan perubahan warna.
Ada motif batik yang akan berubah ketika uang digerakkan.
Menurut Bank Indonesia, fitur keamanan pada uang emisi 2022 jauh lebih kompleks dibandingkan emisi 2016.
Bahkan terdapat fitur lain yang disebut rectoverso, atau motif saling mengisi.
Bank Indonesia memiliki mekanisme evaluasi dan pembaruan desain serta fitur keamanan uang rupiah.
Untuk suatu tahun emisi, evaluasi dilakukan maksimal enam tahun.
Meski kasus pemalsuan uang masih ditemukan, data Bank Indonesia menunjukkan proporsi uang palsu yang beredar di masyarakat terus menurun.
Dari 5 lembar per 1 juta lembar pada 2023, menjadi 1 lembar per 1 juta pada 2026.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperbarui fitur keamanan rupiah agar semakin sulit ditiru dan dipalsukan.
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Saksikan selengkapnya di sini: https://youtu.be/_mIe8r1j3Ho
#uang #palsu #polisi
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/video/688456/rupiah-makin-sulit-dipalsukan-ini-fitur-keamanan-bank-indonesia-dipo