:

TKD Dipangkas, APKASI Sebut Daerah Kesulitan Bangun Infrastruktur dan Bayar Gaji | SATU MEJA

4 minggu lalu

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemangkasan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) menjadi persoalan yang dirasakan sejumlah pemerintah daerah.

Ketum APKASI periode 2025-2030, Bursah Zarnubi, membedakan antara efisiensi anggaran dengan pemangkasan TKD.

Menurutnya, efisiensi merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk mengurangi anggaran yang tidak diperlukan.

Sementara pemangkasan TKD berdampak langsung terhadap kemampuan fiskal daerah.

Bursah menyebut lebih dari 90 persen daerah memiliki persoalan kemampuan fiskal yang perlu diperhatikan.

Ia mengatakan dampak pemangkasan paling terasa di daerah yang kemampuan fiskalnya terbatas.

Bursah menyebut setidaknya terdapat tiga sektor utama yang perlu mendapat perhatian, yakni infrastruktur, kesehatan dan pendidikan.

Belanja wajib tersebut juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah daerah membayar gaji.

Bursah memahami pemerintah tetap harus menjalankan sejumlah program prioritas nasional.

Ia menyebut beberapa program strategis pemerintah seperti MBG, koperasi desa kelurahan merah putih, swasembada pangan, dan sekolah rakyat. Namun, menurutnya, kebutuhan daerah juga harus tetap diperhatikan.

Dari sisi kebijakan, Pakar Otonomi Daerah Prof. Djohermansyah Djohan menilai pemerintah perlu berhati-hati dalam menjalankan program pusat di daerah.

Menurutnya, apabila pemerintah pusat menjalankan program dan kegiatan menggunakan dana pusat di daerah, hal tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip otonomi daerah.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bahtra Banong, menilai persoalan TKD juga harus dilihat dari kemampuan daerah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah atau PAD.

Menurut Bahtra, pemerintah pusat dan Kementerian Dalam Negeri terus mencari formula yang dapat mendorong daerah lebih mandiri.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar. 

Selengkapnya saksikan di sini: 

https://youtu.be/8UgdIaAw_X4


 

#efisiensi #anggaran #mbg 

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/686467/tkd-dipangkas-apkasi-sebut-daerah-kesulitan-bangun-infrastruktur-dan-bayar-gaji-satu-meja

Berikan Komentar
Laporkan komentar

Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Batal edit?

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Hapus Komentar

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Oke
Satu Meja The Forum
[FULL] Panglima TNI Tetapkan Siaga 1 Pasca Iran Diserang Israel-AS, Indonesia Terdampak? | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Panglima TNI Siaga, DPR Ingatkan Jangan Overdosis Darurat Militer | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Purbaya Bantah Ekonomi Indonesia Krisis, DPR: Tidak Masuk Akal | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
DEBAT! Beda Pendapat Feri Amsari dan Qodari soal Siaga 1 TNI hingga Impor Beras | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Panglima TNI Tetapkan Siaga 1 Dampak Perang Iran VS Israel-AS, DPR: Too Early | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
[FULL] AS-Israel Serang Iran, Indonesia Akan Mundur dari Board of Peace demi Palestina? | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Singgung Board of Peace dan Palestina, Pengamat Desak Presiden Prabowo Dengarkan Masukan | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
AS-Israel Serang Iran hingga Singgung BOP Proyek Bisnis, Indonesia Bisa Tinggalkan Trump? |SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Selat Hormuz Kembali Normal, Ancaman Krisis Energi Indonesia Mereda? | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Eks Dubes Dian WIrengjurit Bongkar Penyebab Iran Berkali-kali Kecewa kepada Indonesia | SATU MEJA
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.
Sarapan di Ketinggian 230 Meter, Seperti Apa Rasanya?
Oke