KOMPAS.TV - Tiga pekan penyelidikan tewasnya dokter PPDS di Riau, polisi akhirnya mengungkap penyebab kematian mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi.
Polisi mengungkap ditemukan zat mematikan pada tubuh dokter tersebut.
Hal itu dipastikan setelah pemeriksaan toksikologi di Laboratorium Forensik Polda Riau dan autopsi jenazah di RS Bhayangkara.
Pada tubuh dokter ditemukan kandungan rocuronium pada sampel urine, darah, dan ginjal korban.
Ahli forensik menyimpulkan, kematian korban disebabkan oleh efek rocuronium.
Selain autopsi, polisi juga memeriksa CCTV dan telepon genggam milik korban.
Pihak keluarga membantah adanya permasalahan ekonomi yang menimpa dokter tersebut.
Keluarga mengatakan, dokter tetap beraktivitas seperti biasa sebelum ditemukan tewas di samping RSUD Tengku Rafian Siak pada 14 Juli 2026 lalu.