Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026).
Mata uang Garuda turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp18.029 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.997 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kembali naiknya harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, investor juga mencermati berlanjutnya defisit neraca perdagangan Indonesia.
Selain faktor global, rupiah juga mendapat tekanan dari kondisi perdagangan luar negeri Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia Juni 2026 masih mencatatkan defisit sebesar 450 juta dolar AS.
Nilai ekspor tercatat sebesar 25,46 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 25,91 miliar dolar AS.
Menurut Rully, surplus neraca perdagangan memiliki peran penting dalam menopang penguatan rupiah.
Namun, kondisi tersebut kini tertekan karena surplus perdagangan nonmigas terus menyusut, sementara defisit sektor migas semakin meningkat.