Arab Saudi berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam perang AS-Iran karena ingin menjaga stabilitas dan menjalankan program Visi 2030. Namun, posisi Riyadh semakin sulit setelah menghadapi ancaman dari berbagai arah. Milisi proksi Iran di Irak diduga melancarkan serangan drone ke fasilitas minyak Arab Saudi, sementara kelompok Houthi di Yaman kembali menyerang wilayah dan kapal-kapal Saudi di Laut Merah.
Kini Arab Saudi menghadapi dilema besar: terus membalas serangan demi mencegah ancaman berikutnya atau memilih meredakan konflik dan bernegosiasi dengan pihak lawan. Di tengah ancaman terhadap fasilitas minyak dan jalur ekspor, Riyadh harus berhati-hati agar tidak terseret lebih jauh ke dalam perang AS-Iran yang berisiko mengganggu stabilitas dan ambisi ekonomi negara tersebut.