Amerika Serikat dan Arab Saudi menyepakati kerja sama nuklir selama 30 tahun yang diklaim berfokus pada pengembangan energi nuklir sipil.
Namun, kesepakatan yang diajukan Presiden AS Donald Trump itu justru memunculkan perdebatan karena dinilai dapat mengubah keseimbangan keamanan di Timur Tengah.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah munculnya perlombaan senjata nuklir di kawasan. Sejumlah analis menilai peluang Arab Saudi memperoleh akses terhadap teknologi pengayaan uranium dapat membuka jalan menuju kemampuan nuklir militer di masa depan.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 2018 menyatakan bahwa Riyadh akan mengembangkan senjata nuklir apabila Iran lebih dulu memilikinya. Sementara, Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman juga mengingatkan bahwa program nuklir sipil Arab Saudi berisiko berkembang menjadi kemampuan persenjataan nuklir dan memicu perlombaan senjata di Timur Tengah.
Lantas, apakah kerja sama ini benar-benar akan memperkuat ketahanan energi sipil, atau justru menjadi awal dari babak baru persaingan nuklir di Timur Tengah?
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Nabilah Safirah Narator: Nabilah Safirah Video Editor: Nabilah Safirah Produser: Deta Putri Setyanto (Marvel)