:

Bimbang Emas Turun, Jual atau Beli? Ini Saran dari Psikolog Konsumen - KOMPAS BISNIS

3 minggu lalu

JAKARTA, KOMPAS TV – Di tengah tren penurunan harga emas, psikolog konsumen Irfan Agia mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO) maupun kepanikan saat harga turun.

Menurut Irfan, fenomena masyarakat berbondong-bondong membeli emas ketika harganya tinggi, namun buru-buru menjual saat harga turun, lebih dipengaruhi faktor psikologis daripada pertimbangan investasi.

"Ada fenomena FOMO atau fear of missing out dan yang kedua herd mentality atau perilaku ikut-ikutan. Saat harga mahal muncul rasa takut tertinggal, sementara saat harga turun terjadi kepanikan massal karena melihat orang lain juga menjual," kata Irfan Agia dalam program Kompas Bisnis, Jumat (24/7/2026).

Bagi investor jangka panjang, emas masih memiliki potensi karena secara historis menunjukkan tren kenaikan dalam periode lima hingga sepuluh tahun. Namun, bagi yang mengejar keuntungan jangka pendek, emas belum tentu menjadi instrumen yang tepat.

"Kalau tujuan utamanya untuk jangka panjang, lima sampai sepuluh tahun, emas masih memiliki potensi. Tapi kalau mengejar cuan jangka pendek, bisa mempertimbangkan instrumen investasi lain," katanya.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/682079/bimbang-emas-turun-jual-atau-beli-ini-saran-dari-psikolog-konsumen-kompas-bisnis

Berikan Komentar
Laporkan komentar

Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Batal edit?

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Hapus Komentar

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Oke
Sarapan di Ketinggian 230 Meter, Seperti Apa Rasanya?
Oke