Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan nuklir sipil dengan Arab Saudi bergantung pada kesediaan Riyadh bergabung dalam Kesepakatan Abraham dan mengakui Israel. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan, jika Arab Saudi menolak syarat tersebut, kesepakatan nuklir akan batal.
Kesepakatan kerja sama nuklir selama 30 tahun itu memicu kekhawatiran karena dinilai berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. Meski AS menegaskan kerja sama hanya untuk tujuan damai dan nonmiliter, sejumlah pihak khawatir soal kemungkinan pengayaan uranium, terlebih di tengah ketegangan dengan Iran.