JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah kedua negara terus saling melancarkan serangan meski jalur diplomasi masih terbuka.
Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, pengamat militer CISS, Anton Aliabbas, menilai aksi saling serang merupakan bagian dari strategi diplomasi koersif untuk memperkuat posisi tawar masing-masing pihak di meja perundingan.
Menurutnya, baik Amerika Serikat maupun Iran sama-sama berupaya membatasi eskalasi agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas, meski peluang tercapainya kesepakatan damai masih membutuhkan waktu.
Baca Juga Kecolongan! Prabowo Akui Masalah Indonesia di Luar Perkiraan, Soroti Kebocoran Kekayaan RI di https://www.kompas.tv/video/681495/kecolongan-prabowo-akui-masalah-indonesia-di-luar-perkiraan-soroti-kebocoran-kekayaan-ri
Sementara itu, praktisi hubungan internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, menilai dinamika politik domestik Amerika Serikat turut memengaruhi kebijakan Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Ia juga mengingatkan bahwa negara-negara Teluk kini menghadapi risiko yang semakin besar akibat meningkatnya ketegangan di kawasan. Kedua narasumber sepakat jalur diplomasi masih terbuka, namun selama kepentingan politik dan keamanan masing-masing pihak belum menemukan titik temu, konflik diperkirakan masih akan berlangsung dan berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Rizal
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/video/681496/full-pengamat-militer-praktisi-hi-prediksi-perang-as-iran-masih-panjang-diplomasi-di-balik-konflik