Dalam perang terbaru yang pecah sejak 8 Juli 2026, sejumlah analis menilai kemampuan Iran masih diunggulkan dari Amerika Serikat (AS). Meski AS melancarkan serangan udara di sejumlah titik kawasan Iran di Selat Hormuz, hal itu tidak lantas Iran tunduk. Teheran di bawah komando perang IRGC malah terus melancarkan tetap mempertahankan Selat Hormuz, sembari rudal dan dronenya menargetkan kawasan Teluk.
Analisis dari pakar Timur Tengah menunjukkan Iran telah beradaptasi dengan sanksi ekonomi selama hampir 47 tahun sehingga tekanan baru tidak mudah memaksa Teheran mengubah pendiriannya. Sebaliknya, Amerika Serikat menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari lonjakan harga minyak, kekhawatiran menipisnya persediaan senjata strategis, hingga tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu yang dapat memengaruhi posisi Presiden Donald Trump.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Nabilah Safirah
Narator: Nabilah Safirah
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
#Global #Perang ##Kompascomlab #SelatHormuz #Iran #TrumpIran #PetaSeranganAS #PetaSeranganIran #PerangIran
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi