Iran kembali menutup Selat Hormuz usai Amerika Serikat (AS) melakukan serangan ke wilayahnya.
Gelombang serangan AS, merupakan respons atas Iran yang menyerang kapal yang tidak melalui rute yang telah disetujui di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran perang akan kembali berkobar.
Dilansir BBC, Minggu (12/7/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui pernyataannya menegaskan, Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Iran juga melakukan serangan ke pangkalan AS dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah usai serangan AS. IRGC mengatakan telah menghantam pangkalan AS di Yordania.
Sementara Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain semuanya menanggapi serangan rudal dan drone dari Iran.
Hal ini terjadi setelah insiden tiga kapal tanker komersial diserang, yang memicu pertukaran serangan antara AS dan Iran.
Media pemerintah Iran mengatakan, IRGC menembakkan rudal jelajah angkatan laut ke sebuah kapal yang mencoba berlayar melalui rute yang tak disetujui.
Menurut kantor berita Iran, kapal tersebut terkena tembakan peringatan dan akhirnya berhenti, setelah sebelumnya mengabaikan instruksi berulang kali.