Seorang ibu santri yang dibakar hidup-hidup asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nuraini, dengan kondisi fisik yang kurang prima, mendatangi ruang rapat Komisi III DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Sambil menangis tersedu-sedu, ia meminta perlindungan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan para anggota DPR atas kasus kematian tragis anaknya, Sahril Sobirin.
Sahril, yang tengah menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, dilaporkan tewas mengenaskan akibat disiksa, ditelanjangi, dan dibakar hidup-hidup oleh anak pemilik pondok pesantren (ponpes) tersebut.
Luka bakar yang diderita korban dilaporkan mencapai 80 persen sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
"Bapak Presiden, orang miskin seperti saya ini tidak tahu harus mengadu ke mana lagi. Karena pihak kepolisian dan orang Departemen Agama di Lombok Tengah justru ikut mengarahkan pondok pesantren untuk menyodorkan surat damai demi menutupi kejahatan ini," ungkap ibu korban yang diwakili oleh tim Hotman Paris dengan suara bergetar menahan tangis.
Sebagai informasi, kasus pembakaran santri di Ponpes Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy terjadi pada 13 Desember 2025.
Peristiwa tersebut mengakibatkan ADR (14) dan SAH (12) mengalami luka bakar serius, MYS (14) mengalami luka ringan, sedangkan Sahril (13) meninggal dunia pada 19 Februari 2026 setelah menjalani perawatan selama sekitar dua bulan.
Polres Lombok Tengah telah menetapkan dua tersangka, yakni MR (15), seorang santri senior, dan AM (55), pimpinan pondok pesantren.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini!
Video Jurnalis: Dimas Nanda Krisna
Naskah: Dimas Nanda Krisna
Video Editor: Dimas Nanda Krisna
Produser: Nursita Sari
#hukum #kriminal #santridibakarsenior #santrillombok #DPR #viral #vjlab