Pada November 2008, situasi Serang, Banten mendadak membara dan mencekam. Ribuan massa bersiap menyambut kedatangan jenazah pelaku Bom Bali I, Imam Samudra.
Ancaman "Banten akan berdarah" santer terdengar dari kelompok pengikutnya yang merasa Imam Samudra tidak bersalah.
Di tengah risiko konflik massal yang masif, situasi kritis ini berhasil diredam dengan kepala dingin oleh seorang Jenderal Bintang Satu yang berasal dari Polwan.
Ia adalah Brigjen Pol (Purn) Rumiah Kartoredjo, Kapolda perempuan pertama dan satu-satunya dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Secara eksklusif di Brigade Podcast Kompas.com, Rumiah membongkar taktik intelijen super rahasia yang belum pernah terungkap ke publik dalam pengamanan kedatangan jenzah pelaku Bom Bali I.
- Kisah beliau menyamar menjadi penjual jamu demi mengintai langsung kediaman keluarga Imam Samudra di Serang.
- Taktik "Peti Jenazah Ganda" menggunakan dua pesawat berbeda demi mengecoh massa dan meminimalisir kekacauan.
- Siasat seragam penyamaran petugas hingga penolakan tegas terhadap kedatangan tokoh radikal demi mencegah "geger" besar di tanah Banten.
Bagaimana seorang mantan atlet softball peraih medali emas Seagames memimpin koordinasi para Ulama dan Jawara Banten di tengah ancaman terorisme global?
Kisah ini dimunculkan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri pada 1 Juli 2026. Simak wawancara selengkapnya di Brigade Podcast yang telah tayang pada Jumat (26/6/2026).
[00:00] - Intro
[03:22] - Situasi kritis saat kepulangan jenazah pelaku teror Bom Bali I, Imam Samudra.
[05:29] - Temuan intelijen tentang potensi gejolak perlawanan di Serang
[09:17] - Strategi senyap penyamaran Kapolda Banten
[11:52] - Taktik kecohan udara: Menggunakan dua pesawat
[13:01] - Tugas "Polisi rahasia" saat pemakaman Imam Samudra
[19:52] - Penunjukan mendadak jadi Kapolda Banten
[23:52] - Tantangan memimpin sebagai perempuan
[27:12] - Duet Srikandi Banten: Merangkul kiai, santri, serta