Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkap fakta mengejutkan bahwa Turkiye sempat berencana turun tangan membantu Iran saat konflik memuncak, meski rencana tersebut akhirnya batal setelah ia membujuk Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Meski tidak terjadi, pengakuan ini memicu kekhawatiran mendalam di pihak Israel soal Turkiye di masa depan. Ini tidak lepas dari temuan bahwa kini Turkiye sebagai kekuatan militer terbesar kedua di NATO, setelah AS, dengan kemandirian industri pertahanan mencapai 80 persen.
Terlebih lagi, kedekatan baru antara Trump dan Erdogan yang membuka kemungkinan akses kembali bagi Turkiye terhadap jet tempur F-35 menjadi ancaman serius bagi keunggulan udara yang selama ini diandalkan oleh Tel Aviv.
Di sisi lain, Iran terus memperkokoh posisinya sebagai kekuatan militer yang kian sulit digoyahkan berkat strategi swasembada total yang teruji di tengah tekanan sanksi berkepanjangan. Sikap Trump yang melonggarkan tuntutan terkait program rudal balistik Iran dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran, yang justru membuat Israel semakin terpojok.
Kini, Israel harus menghadapi realitas pahit bahwa baik Iran maupun Turkiye semakin mandiri dalam urusan militer dibanding Tel Aviv yang masih berada dalam ketergantungan bayang-bayang Amerika Serikat. Ini bisa menjadikan Iran dan Turkiye sebagai ancaman strategis yang jauh lebih nyata dan setara bagi stabilitas regional ke depannya.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Duty Calls - Rod Kim
#global #perang ##kompascomlab #turkiye #iranturkiye #iranisrael #iranamerika