Iran kini menerapkan doktrin pertahanan yang lebih agresif dengan mengambil pelajaran berharga dari "Dilema Faw" tahun 1980-an, di mana kegagalan mengonversi keunggulan militer menjadi hasil diplomatik yang tepat waktu berujung pada kerugian strategis.
Belajar dari kesalahan masa lalu, Teheran kini lebih lihai dalam memposisikan kekuatan asimetrisnya terutama melalui ancaman terhadap Selat Hormuz, sebagai daya tawar utama untuk menekan Amerika Serikat di meja perundingan.
Pendekatan pragmatis ini terbukti efektif dalam membuahkan nota kesepahaman yang menjanjikan insentif ekonomi bernilai miliaran dolar, sambil tetap mempertahankan kendali penuh atas program rudal yang mereka anggap sebagai jaminan eksistensi negara.
Meski berhasil memaksa Amerika Serikat untuk melunakkan sikap, termasuk dengan tidak memasukkan program rudal dalam kesepakatan damai, Iran tetap mempertahankan posisi keras kepala yang menjadi ciri khas diplomasi mereka.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Chariots of War - Aakash Gandhi
#global #perang ##kompascomlab #Iran #AS #PerangIran #Mojtaba #Trump #DilemaFaw