:

Tak Ada Akses Jalan, Warga di Seram Barat Pikul Jenazah Sejauh Empat Kilometer

2 minggu lalu

SERAM BAGIAN BARAT, KOMPAS.TV - Duka atas kepergian seorang warga di Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, kembali membuka persoalan lama yang belum kunjung terselesaikan: keterisolasian akibat buruknya infrastruktur jalan.

Puluhan warga terpaksa menandu jenazah seorang perempuan bernama Balandina Tibalimeten sejauh sekitar empat kilometer melintasi jalan setapak di kawasan pegunungan. Tidak adanya akses jalan yang layak membuat kendaraan roda empat tidak dapat menjangkau wilayah tersebut.

Perjalanan pemakaman yang seharusnya berlangsung sederhana berubah menjadi perjuangan fisik yang menguras tenaga. Warga harus bergantian memikul tandu jenazah menyusuri medan berbukit, jalan tanah, dan jalur sempit yang menjadi satu-satunya akses menuju kampung asal almarhumah.

Balandina meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Namun, setelah kepergiannya, keluarga dan warga masih harus menghadapi tantangan lain, yakni membawa jenazah menuju kampung halaman untuk dimakamkan secara layak.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana keterbatasan infrastruktur masih menjadi persoalan mendasar di sejumlah wilayah pedalaman Maluku. Di tengah perkembangan pembangunan di berbagai daerah, sebagian masyarakat masih harus mengandalkan tenaga manusia untuk mengangkut orang sakit, kebutuhan pokok, bahkan jenazah.

Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, mengatakan peristiwa menandu jenazah bukanlah kejadian pertama yang terjadi di desanya. Menurutnya, warga telah berulang kali melakukan hal serupa karena tidak memiliki pilihan lain akibat akses jalan yang belum memadai.

“Ini sudah sering terjadi. Kalau ada warga sakit atau meninggal, masyarakat terpaksa mengandalkan tenaga sendiri karena kendaraan tidak bisa masuk ke kampung,” ujarnya.

Kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui tidak hanya menyulitkan proses pemakaman. Akses pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga distribusi kebutuhan pokok juga turut terdampak. Saat musim hujan tiba, jalur yang ada bahkan menjadi lebih berbahaya karena licin dan rawan longsor.

Bagi masyarakat Desa Lohia Sapalewa, kisah pemikulan jenazah sejauh empat kilometer bukan sekadar perjalanan terakhir seorang warga menuju peristirahatan terakhirnya. Peristiwa itu menjadi potret nyata tentang masih adanya wilayah yang menunggu sentuhan pembangunan agar dapat menikmati akses dasar yang layak.

Di tengah keterbatasan tersebut, semangat gotong royong warga tetap menjadi kekuatan utama. Puluhan orang bahu-membahu mengantarkan Balandina Tibalimeten ke tempat peristirahatan terakhirnya, sebuah perjalanan yang sekaligus menjadi pengingat bahwa infrastruktur bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan juga tentang martabat dan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang setara.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/676592/tak-ada-akses-jalan-warga-di-seram-barat-pikul-jenazah-sejauh-empat-kilometer

Berikan Komentar
Laporkan komentar

Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Batal edit?

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Hapus Komentar

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Oke
Sarapan di Ketinggian 230 Meter, Seperti Apa Rasanya?
Oke