CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, merespons terkait pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Timur.
Fabby merespons pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebutkan bahwa pemadaman tersebut disebabkan oleh gangguan teknis pada pembangkit dan transmisi.
Menurut Fabby, terdapat faktor yang jauh lebih dominan dan mendasar, yakni ketersediaan pasokan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah masuk level kritis.
Fabby menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Jawa-Bali seharusnya memiliki standar reserve margin atau cadangan daya sebesar 30%. Dengan kapasitas total yang ada, artinya terdapat sekitar 9 hingga 10 Gigawatt (GW) daya yang selalu dalam posisi siap.
"Cadangan daya ini berfungsi untuk menjaga kestabilan pasokan jika ada pembangkit yang mengalami gangguan atau sedang dalam masa perbaikan. Harusnya, gangguan teknis biasa tidak akan berdampak pada pemadaman massal karena cadangan kita sangat besar," ujar Fabby.
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Abba Gabrillin
#BahlilLahadalia #Bahlil #PLN #Energi
#BatuBara ##vjlab