KOMPAS.TV - Aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah kembali berlanjut di beberapa daerah, termasuk Yogyakarta dan Jakarta.
Di Yogyakarta, massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil memadati kawasan Pertigaan Gejayan, Sabtu sore hingga malam hari. Aksi ini diikuti mahasiswa dari berbagai kampus, Aliansi Suara Ibu Peduli, serta sejumlah elemen masyarakat.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan enam tuntutan utama, di antaranya penolakan kenaikan harga Pertamax, kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta proyek Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai menuai kontroversi. Isu lain yang disorot yakni pajak UMKM, pelemahan rupiah, dan militerisme di ruang sipil.
Sementara di Jakarta, ribuan mahasiswa dari BEM UI dan aliansi mahasiswa Jabodetabek menggelar aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia sejak Jumat siang. Aksi diawali long march dari Senayan dengan membawa lima tuntutan terkait evaluasi kebijakan dan perbaikan kondisi ekonomi.
Tuntutan tersebut mencakup penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian pemborosan APBN, serta evaluasi program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Aksi di sejumlah titik juga diwarnai dinamika lapangan, termasuk pembatasan area aksi oleh aparat kepolisian demi menjaga ketertiban.
Di beberapa daerah lain seperti Salemba dan Solo, aksi mahasiswa juga sempat diwarnai ketegangan setelah muncul kabar adanya peserta aksi yang diamankan, meski kemudian dibantah pihak kepolisian.
Gelombang aksi ini mencerminkan meningkatnya sorotan publik terhadap kondisi ekonomi nasional dan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak langsung pada masyarakat.
#DemoMahasiswa #Gejayan #BundaranHI #Ekonomi #BBM
Baca Juga Saling Dorong TNI-Polri & Mahasiswa! Aksi Demo Kritisi Ekonomi di Banyumas di https://www.kompas.tv/nasional/674690/saling-dorong-tni-polri-mahasiswa-aksi-demo-kritisi-ekonomi-di-banyumas
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/nasional/674692/ketua-gerakan-cinta-prabowo-sebut-komunikasi-istana-ke-masyarakat-perlu-evaluasi-kompas-petang