JAKARTA, KOMPAS.TV - Said Iqbal menegaskan keputusan menerima jabatan di pemerintahan didasarkan pada pengalaman panjang gerakan buruh, termasuk saat menghadapi pembahasan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja.
Menurut Said, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa buruh tidak bisa hanya bergerak dari luar kekuasaan. Ia juga menegaskan keterlibatan buruh dalam politik merupakan hal yang wajar.
Said menjelaskan, setelah Prabowo terpilih sebagai Presiden, KSPI melihat adanya peluang untuk menyampaikan koreksi terhadap berbagai kebijakan yang dianggap merugikan pekerja.
Hal berbeda disampaikan Dosen Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari yang menilai pemerintah saat ini cenderung menarik terlalu banyak tokoh sentral dari berbagai gerakan ke dalam Istana.
Menurut Feri, sejumlah figur yang direkrut merupakan tokoh penting dalam berbagai gerakan sosial dan politik.
Meski tidak mempersoalkan aktivis masuk pemerintahan, Feri mengingatkan banyaknya posisi baru di sekitar Presiden justru berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan.
Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pemborosan birokrasi, terutama terkait penunjukan Said Iqbal, sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan. Feri mempertanyakan urgensi jabatan tersebut.
Feri menilai keberadaan kelompok kritis di luar pemerintahan tetap diperlukan sebagai penyeimbang kebijakan negara.
Sementara itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, membantah anggapan bahwa masuknya para aktivis ke pemerintahan hanya bertujuan meredam suara kritis.
Budiman menilai Presiden Prabowo membawa pendekatan berbeda dibandingkan pemerintahan sebelumnya, terutama dalam penggunaan APBN untuk pemerataan kesejahteraan.
Menurut Budiman, penempatan tokoh-tokoh gerakan dalam pemerintahan justru dibutuhkan untuk menjalankan agenda perubahan sosial yang lebih luas.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/c7-VobVdbQM
#prabowo #menteri #kabinet
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/talkshow/674103/said-iqbal-ungkap-alasan-gabung-pemerintahan-prabowo-ini-kritik-feri-amsari-satu-meja