JAKARTA, KOMPAS.TV - Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, sekitar 80 persen sampah di laut berasal dari daratan.
Dampaknya kini dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di sekitar kawasan pesisir Muara Angke.
Salah satu Warga Muara Angke yakni Arti Astati mengaku telah melaporkan persoalan pulau sampah kepada pemerintah sejak tahun lalu.
Menurut Arti, sampah yang menumpuk tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengubah wajah pesisir yang seharusnya menjadi kawasan laut.
Di belakang permukiman warga, sampah yang terbawa arus laut dan banjir rob terus menumpuk dari waktu ke waktu.
Tumpukan sampah bercampur lumpur bahkan membentuk daratan baru yang sulit dibersihkan.
Meski sempat dilakukan pengerukan oleh pemerintah, kondisi serupa terus berulang.
Warga pun harus hidup berdampingan dengan sampah yang berada tepat di sekitar tempat tinggal mereka.
Selain mengganggu kenyamanan, warga juga mengeluhkan dampak kesehatan yang muncul akibat kondisi lingkungan tersebut.
Kondisi semakin terasa saat banjir rob datang dan membawa sampah hingga ke area permukiman.
Menurut Arti, persoalan sampah di kawasan pesisir bukanlah masalah baru.
Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup RI, Jumhur Hidayat, mengakui persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dituntaskan.
Pemerintah menargetkan persoalan sampah dapat terurai dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Menurutnya, akar persoalan utama berada di daratan dan kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai.
Maka, pemerintah menilai penanganan sampah laut tidak cukup dilakukan di hilir, melainkan harus dimulai dari sumber masalahnya.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/kpbZOKo3cok
#pulausampah #jakarta #pencemaran
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/video/673746/pulau-sampah-kepung-warga-menteri-lingkungan-hidup-janjikan-solusi-dalam-2-3-tahun-dipo