JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik Iran dan Israel kembali memuncak setelah saling melancarkan serangan yang turut menyeret Lebanon ke dalam pusaran ketegangan kawasan.
Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi menilai eskalasi terbaru ini tidak bisa dilepaskan dari proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Hasibullah, Iran justru menjadi pihak yang paling banyak memperoleh keuntungan dari krisis terbaru karena berhasil menambah daya tawar dalam perundingan.
Di sisi lain, ia menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya membakar kertas perundingan yang sedang dibangun antara Washington dan Teheran dengan terus memperluas konflik ke Lebanon.
Dosen Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, menilai eskalasi terbaru antara Iran dan Israel menunjukkan adanya perubahan dinamika konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, Iran kini tampil lebih agresif dibanding sebelumnya, sementara Amerika Serikat terlihat semakin ingin mengakhiri keterlibatan langsung dalam perang.
Stanislaus melihat ada kemungkinan Amerika menyerahkan estafet permusuhan kepada Israel agar dapat keluar dari konflik tanpa kehilangan muka.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan Iran tidak hanya terletak pada kemampuan militernya, tetapi juga pada pengaruh strategis Selat Hormuz yang dapat berdampak besar terhadap perekonomian global.
Meski situasi masih penuh ketidakpastian, Stanislaus berharap seluruh pihak menghentikan penggunaan kekuatan militer dan kembali menempuh jalur diplomasi demi terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Simak dialog selengkapnya bersama Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dan Dosen Kajian Ketahanan Nasional UI, Stanislaus Riyanta.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Rizal
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/video/673677/full-pengamat-dan-dosen-ketahanan-ui-bahas-gejolak-rudal-iran-serang-israel-perang-kian-memuncak