Warung nasi pinggiran ternyata sangat bergantung pada nilai tukar mata uang asing. Fenomena ini dirasakan oleh para pedagang Warteg (Warung Tegal) belakangan ini.
Kenaikan harga bahan pangan yang mencapai 30 persen diduga kuat dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pekan ini, nilai tukar dolar tembus Rp 18.000, tertinggi sepanjang sejarah.
Impor Kedelai dan Daging Jadi Pemicu
Imam Mulyana, seorang pedagang Warteg yang sudah berjualan selama dua tahun mengungkapkan bahwa kenaikan harga paling terasa pada komoditas yang berbahan baku impor.
"Paling pengaruh itu daging-dagingan impor dan tempe-tahu. Itu kan bahan bakunya kedelai dari luar negeri juga. Jadi kenaikan dolar sangat berpengaruh," ujar Imam di Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, biaya operasional saat ini membengkak hingga 30 persen. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya jumlah konsumen yang diduga juga terdampak oleh lesunya daya beli akibat ketidakpastian ekonomi.
Para pedagang memiliki strategi berbeda. Imam memilih untuk tidak menaikkan harga jual di kisaran Rp12.000 hingga Rp15.000, namun ia terpaksa mengurangi porsi makanan demi menjaga margin keuntungan.
Di sisi lain, Aura sudah 16 tahun berjualan, memilih menaikkan harga secara langsung. Ia menyebut harga beras yang melonjak dari Rp680 ribu menjadi Rp780 ribu per karung sebagai beban terberat.
Para pedagang ini ternyata melek terhadap kondisi ekonomi global. Harapan mereka sangat spesifik yakni stabilitas kurs.
"Harapan buat pemerintah, dolar bisa ditekanlah, kalau bisa di bawah Rp10 ribu supaya harga lebih stabil," pungkas Imam.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini.
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah,
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Diamanty Meiliana
#Dolar #EkonomiIndonesia #warteg #vjlab