:

Roby Muhamad: Memecah Algoritma Digital dengan Sahabat In Real Life | BEGINU

6 hari lalu

Roby Muhamad adalah pakar social network yang mengawali langkah akademisnya sebagai seorang fisikawan. Namun, realitas krisis moneter dan konflik sosial di Indonesia mengubah peta hidup Roby menjadi seorang sosiolog.


Dari buku-buku seperti "Istanbul" karya Orhan Pamuk, "The Brothers Karamazov" karya Fyodor Dostoevsky, serta buku non-fiksi pemenang Pulitzer, "The Metaphysical Club" karya Louis Menand, Roby menyoroti kaum Gen Z yang hidup sebagai "generasi eksperimen digital" terbesar dalam sejarah. Roby menggarisbawahi ciri khas Gen Z yang mudah merasa lelah dan disorientasi karena dipaksa mengambil keputusan cepat di bawah tekanan informasi yang tak ada henti-hentinya.


Simak selengkapnya bersama Sosiolog Roby Muhamad dipandu oleh Host Wisnu Nugroho hanya di YouTube Kompas.com!


Klik kode di bawah ini untuk mempermudah kamu:

00:00 Intro

01:02 Ketakutan menjadi tidak relevan di era baru

02:29 Penghubung Ilmu Fisika ke Ilmu Sosial

09:10 Melihat pola manusia di tengah konflik

13:45 Gen Z sebagai eksperimen digital terbesar sepanjang sejarah

18:19 Teori 6 Derajat Pemisahan: Kita terhubung sangat dekat 

25:41 Tips mengambil keputusan di era banjir informasi

30:32 3 buku bacaan yang mempengaruhi Roby Muhamad

53:45 Pesan untuk para pembaca buku

56:10 Peran buku di masa kini

01:01:11 Sahabat adalah algoritma terbaik kehidupan


***

Eksekutif Produser: Oky Ivans

Produser: Rima Rismania

Asisten Produser: Handika Syukur Nur Alam

Kreatif: Zianny Difayama

Penata Kamera: Antonius Aditya Mahendra, M. Rizki Fauzan

Penyunting Gambar: Bagus Wahyudi

Tim Promosi: Brigitta V. Bellion


***

#beginu #wisnunugroho #robymuhamad #kompascom

Berikan Komentar
Laporkan komentar

Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Batal edit?

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Hapus Komentar

Setelah dihapus, kamu tidak bisa membatalkan

Oke
Sarapan di Ketinggian 230 Meter, Seperti Apa Rasanya?
Oke