China kini menempati posisi pengamat strategis yang cermat di tengah kelimpungan militer dua raksasa dunia, Rusia dan Amerika Serikat. Di satu sisi, Rusia terjebak dalam perang berkepanjangan melawan Ukraina yang inovatif dalam taktik perang asimetris, mengakibatkan kerugian personel dan kegagalan pencapaian tujuan geopolitik strategis.
Di sisi lain, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump terperosok dalam konflik tak berujung melawan Iran, yang tidak hanya mengganggu stabilitas pasokan energi global melalui penutupan Selat Hormuz, tetapi juga membebani sumber daya militer dan ekonomi AS tanpa adanya jalan keluar yang menguntungkan bagi Washington.
Bagi Beijing, kedua konflik tersebut menjadi laboratorium militer berharga untuk mengamati titik buta serta kelemahan taktis dan strategis dalam perang. China secara saksama mempelajari bagaimana kekuatan yang lebih kecil dapat menguras daya tahan negara adidaya melalui inovasi drone, kerentanan pangkalan militer, hingga kelemahan sistem aliansi yang kian tergerus oleh kebijakan unilateral.
Pelajaran ini diproyeksikan menjadi bahan pertimbangan utama Xi Jinping dalam mengalkulasi risiko, kekuatan, dan kesiapan militer China sebelum mengambil langkah besar yang mungkin menentukan masa depan Taiwan di masa depan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #rusia #ukraina #perangrusia #perangukraina #iran #iranamerika #china