Supardihan (56) menggeluti dunia jagal hampir 30 tahun. Pria asal Kampung Cinangka, Tangerang ini adalah potret nyata seorang yang memulai segalanya bermodalkan keberanian dan ketulusan hati.
Aan tidak pernah mengenyam pendidikan khusus untuk menjadi tukang jagal. Sejak tahun 1998, ia memilih jalur otodidak, belajar dengan cara melihat, merasakan, dan mempraktikkan langsung apa yang ia amati dari orang tua dan guru-gurunya.
"Kalau nggak salah saya dari tahun 98 lah mulai ikut. Awalnya saya menjagal kambing gitu kan, kecil-kecilan dulu. Belajarnya ya otodidak, seperti itu. Saling menyayangi dulu lah sama hewannya," kenang Aan di Masjid Pondok Indah Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026)
Menjadi jagal adalah pekerjaan dengan risiko nyawa di setiap ayunan golok. Aan menceritakan bahwa kecelakaan kerja adalah hal yang nyata, bahkan bagi mereka yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
Salah satu momen paling mengerikan dalam karirnya adalah ketika senjata tajam miliknya sendiri berbalik membahayakannya.
"Ada aja (kecelakaan). Pernah golok istilahnya mental (terpental) dari sembelihan sampai mengenai leher. Itu terjadi karena hewannya atau situasinya yang nggak terduga," kata Aan.
Tak hanya sabetan golok, Pak Aan juga pernah mengalami jari yang terjepit masuk ke mulut hewan hingga tendangan kaki sapi yang bisa membuat seorang jagal terpental. Risiko-risiko inilah yang membuatnya selalu menekankan pentingnya "tertib di hati" dan ketenangan sebelum memulai penyembelihan.
Bagi Pak Aan, kunci untuk meminimalisir kecelakaan adalah dengan "menyayangi" hewan tersebut sebelum disembelih. Ia memiliki metode unik berupa komunikasi batin agar hewan tidak mengamuk.
Simak selengkapnya dalam berikut ini.
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Abba Gabrillin
#Kurban2026 #Viral #Peristiwa #KisahInspiratif #BeritaHariIi #News #vjlab