Selama sebelas minggu terakhir, blokade Selat Hormuz oleh Iran telah melumpuhkan aktivitas pelayaran global dan menyebabkan kerugian finansial yang masif, dengan estimasi kerugian mencapai 114 miliar dolar AS per hari. Dalam situasi ini, mekanisme tarif tol sebesar 2 juta dolar AS per kapal yang ditawarkan Iran dinilai oleh para ekonom sebagai langkah yang jauh lebih pragmatis dan hemat biaya dibandingkan membiarkan kapal-kapal tanker terus terdampar dengan beban biaya operasional, asuransi, dan upah yang membengkak tanpa hasil. Pilihan ini memaksa dunia internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk menimbang ulang kalkulasi ekonomi di balik konflik yang berkepanjangan ini.
Di sisi lain, tekanan akibat krisis energi ini telah memaksa Presiden Donald Trump untuk melunakkan retorika perang yang ia gaungkan sejak awal konflik. Meskipun Trump kini mencoba mengarahkan situasi menuju meja perundingan, ia menghadapi resistensi kuat dari internal Partai Republik yang khawatir bahwa kesepakatan damai tanpa pelucutan nuklir dan rudal Iran akan menjadi preseden fatal. Posisi politik Trump kian terjepit di antara tuntutan Kongres untuk mengakhiri perang tanpa otoritas yang jelas dan urgensi domestik untuk menekan harga bahan bakar sebelum pemilihan paruh waktu, menjadikan Selat Hormuz senjata geopolitik yang efektif bagi Iran untuk membalikkan skenario militer Washington.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Final Boss - Myuu
#konflik #global ##kompascomlab #Iran #SelatHormuz #IranvsAmerika