Strategi tarik-ulur yang diterapkan Iran terbukti efektif menekan pemerintahan Donald Trump di tengah kebuntuan negosiasi damai. Alih-alih merasa terdesak, Teheran justru sengaja mengulur waktu karena memahami bahwa konflik yang berkepanjangan akan memperburuk kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat, termasuk melonjaknya harga bahan bakar serta penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Trump.
Di saat bersamaan, ancaman dari pejabat senior Iran untuk memperluas palagan perang hingga ke Laut Merah dan Samudra Hindia, serta kemungkinan penarikan diri dari perjanjian non-proliferasi nuklir, semakin memperumit kalkulasi Washington.
Situasi Trump kian terjepit akibat serangan politik bertubi-tubi dari Partai Demokrat dan kritik tajam dari internal Partai Republik, yang menilai bahwa potensi kesepakatan damai justru akan menguntungkan posisi tawar Iran. Di tengah tekanan kredibilitas dan opini publik yang mayoritas menolak perang, Trump melontarkan gagasan visioner namun dianggap absurd, yakni mengajak Iran bergabung dalam Abraham Accords untuk berdamai dengan Israel.
Usulan ini dinilai para analis sebagai langkah yang sangat sulit diwujudkan dalam waktu dekat, mengingat rivalitas regional yang mendalam serta posisi Iran yang masih berada dalam status konflik aktif.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Cavalry - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #iran #amerika #iranvsamerika #perangiran