Oman seakan terjebak dalam dilema antara Iran atau Amerika Serikat (AS). Situasi itu muncul saat Iran mewacanakan pemberlakuan tarif transit sebesar 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melintas, sembari mengajak Oman untuk berbagi keuntungan dalam skema tersebut.
Langkah ini didasarkan pada argumen Teheran bahwa mereka tidak terikat pada konvensi UNCLOS 1982 karena belum meratifikasinya, sehingga merasa berhak membatasi jalur tersebut demi alasan kedaulatan. Rencana ini segera memicu kekhawatiran besar dari negara-negara Barat yang menuntut kebebasan navigasi tanpa hambatan, bahkan mendorong Inggris dan Prancis untuk menyusun rencana tandingan guna merespons klaim sepihak tersebut.
Meski awalnya menolak, Oman kini mulai melunak dan membuka dialog mengenai opsi pembagian pendapatan, dengan pertimbangan pragmatis bahwa membayar tarif transit jauh lebih murah daripada menanggung kerugian ekonomi akibat blokade total yang melumpuhkan rantai pasok energi global.
Dengan memanfaatkan pengaruh diplomatiknya, Oman berpotensi menjadi jembatan negosiasi bagi negara-negara Teluk lainnya serta Amerika Serikat untuk menerima skema tarif ini sebagai "pajak perdamaian" demi menjaga stabilitas arus pengiriman minyak dunia.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Future - Anno Domini Beats
#global #konflik ##kompascomlab #iran #oman #selathormuz