LUWU, KOMPAS.TV — Suasana haru dan cemas menyelimuti sebuah rumah panggung di Desa Buntu Karya, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Rumah tersebut merupakan kediaman dari keluarga Andi Angga Prasadewa, salah satu dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan ditangkap dan ditahan oleh pihak militer Israel di perairan internasional.
Andi Angga bertolak ke Timur Tengah sebagai relawan kemanusiaan resmi perwakilan dari lembaga filantropi Rumah Zakat. Ia bergabung dalam misi internasional bertajuk Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan kemanusiaan global yang menggunakan armada kapal untuk mendistribusikan bantuan logistik dan medis langsung ke Jalur Gaza yang hingga kini masih berada di bawah blokade ketat militer Israel.
Namun, misi mulia tersebut berujung penahanan. Kapal yang ditumpangi Angga dan sejumlah relawan internasional lainnya dicegat paksa oleh militer Israel saat melintasi kawasan Perairan Mediterania Timur.
Ayah kandung Angga, Andi Hamzah, mengaku sangat terpukul saat pertama kali mendengar kabar buruk mengenai putranya. Informasi mengenai penahanan Angga oleh militer Israel diterimanya tepat saat ia hendak menunaikan ibadah salat Maghrib pada Selasa (19/5/2026).
"Kabar itu datang waktu saya mau salat Maghrib. Tentu kami sekeluarga sangat terkejut dan sedih mendengar Angga ditahan oleh tentara Israel," ungkap Andi Hamzah dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya.
Mengingat kembali momen-momen sebelum putranya hilang kontak, Andi Hamzah menyebutkan bahwa komunikasi terakhir mereka terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026, atau dua hari sebelum kabar penangkapan itu mencuat.
Dalam sambungan telepon terakhirnya, Angga seolah sudah mengantisipasi risiko berat yang akan dihadapinya di perairan Mediterania. Ia sempat memberikan pesan penguat kepada sang ayah dan seluruh keluarga di kampung halaman.
"Pada komunikasi terakhir tanggal 17 Mei lalu, Angga meminta kami di sini untuk tetap kuat. Dia minta keluarga terus berdoa dan tabah menghadapi apa pun situasi yang terjadi di sana," kenang Andi Hamzah.
Andi Angga Prasadewa bukanlah pelayar biasa, melainkan seorang aktivis kemanusiaan yang membawa misi perdamaian dari Indonesia. Bersama dengan enam WNI lainnya serta puluhan relawan dari berbagai belahan dunia, mereka berlayar membelah Laut Mediterania dengan target menembus blokade laut guna menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pencegatan dan penangkapan di perairan internasional oleh militer Israel ini memicu gelombang kekhawatiran, tidak hanya bagi keluarga di Luwu, tetapi juga bagi lembaga tempat Angga bernaung, Rumah Zakat, serta masyarakat Indonesia secara luas.
Hingga saat ini, pihak keluarga di Luwu masih dirundung ketidakpastian mengenai kondisi fisik dan keselamatan Angga di dalam tahanan Israel. Mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, keluarga sangat menaruh harapan besar pada gerak cepat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.
Andi Hamzah meminta dengan sangat agar Pemerintah Indonesia segera mengambil tindakan diplomatik yang tegas dan menggunakan segala jalur internasional yang memungkinkan demi membebaskan seluruh relawan WNI.
"Kami dari pihak keluarga sangat berharap dan meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatik. Tolong bantu bebaskan anak kami dan seluruh relawan WNI yang ditangkap di sana agar mereka bisa pulang dengan selamat," harapnya memungkasi.
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/regional/670487/misi-kemanusiaan-7-wni-ditangkap-militer-israel