Strategi "Jurus Segitiga" yang diterapkan Iran telah membalikkan kalkulasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. The New York Times dalam laporannnya, Rabu (20/5/2026) menggambarkan bagaimana Teheran paham betul kekurangannya bisa menjadi senjata mematikan, yakni tidak membalas serangan secara langsung ke Washington atau Tel Aviv. Dan kemungkinan strategi ini bisa dilakukan jika AS-Israel kembali memaksa perang babak kedua.
Segitiga yang dimaksud yakni, saat AS-Israel melancarkan serangan ke Teheran, Iran bukannya menyerang balik arah, namun membelokan serangan menyasar infrastruktur energi milik negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait yang jauh lebih rentan secara militer namun sangat krusial bagi ekonomi global. Dari negara teluk itu, maka muncul kecaman dan tekanan ekonomi yang menekan AS. Dan kini Trump berusaha menghindari hal itu terulang.
Makanya, Axios mengungkap ketegangan diplomatik pun memuncak saat Benjamin Netanyahu mendesak serangan lanjutan, yang justru ditolak keras oleh Trump demi menghindari risiko yang lebih besar bagi ekonomi dan politik domestik AS.
Saat ini, Trump terjepit di antara tuntutan sekutu Israel yang agresif, desakan negara-negara Teluk untuk melakukan mediasi, serta ancaman baru Iran yang berpotensi memblokade Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz secara bersamaan.
Dengan posisi Iran yang semakin kuat sebagai pemegang kendali akses energi global, masa depan konflik ini kini beralih ke meja perundingan, menandai kegagalan pendekatan militer agresif dalam menundukkan Teheran.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Taking Chances - The Soundings
#global #perang ##kompascomlab #iran #amerikaserikat #perang