Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan taksi listrik yang tertemper KRL tidak mengalami gangguan sistem sebelum kecelakaan terjadi pada Senin (27/4/2026).
Temuan itu didasarkan pada data yang tersimpan dalam unit kendaraan yang dianalisis oleh KNKT.
“Data onboard unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian,” kata Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
KNKT justru menemukan adanya pengoperasian transmisi yang tidak sesuai sesaat sebelum kendaraan berhenti di tengah rel perlintasan sebidang kereta api di Jalan Ampera.
Mobil awalnya melaju normal dari arah utara menuju selatan dengan posisi transmisi “D” atau drive dan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam.
Namun, tak lama kemudian posisi transmisi berubah menjadi “N” atau netral ketika kendaraan berada di jalur menurun dengan kemiringan 2,9 persen.
“Kemudian, kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 kilometer per jam. Ini kami tidak tahu kenapa kok di posisi netralkan,” ucap dia.
Menurut KNKT, pengemudi kemudian membiarkan kendaraan meluncur sambil melakukan pengereman ringan hingga memasuki area rel kereta.
Saat sudah berada di atas rel, sopir disebut mulai menginjak pedal gas hingga 25 persen. Namun, mobil tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi netral.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini!
Video Jurnalis: Dimas Nanda Krisna
Penulis Naskah: Dimas Nanda Krisna
Video Editor: Dimas Nanda Krisna
Produser: Diamanty Meiliana
#news #kecelakaankeretabekasitimur #taksigreensm #tersangkakecelakaankereta #vjlab