Kebijakan Trump dinilai mempercepat Iran menciptakan senjata nuklirnya. Program nuklir Iran kini berada di titik paling krusial setelah bertahun-tahun melewati periode diplomasi yang gagal serta tekanan sanksi yang justru memicu percepatan pengayaan uranium.
World Street Journal dalam laporannya, Selasa (19/5/2026) mengungkap kebijakan Donald Trump pada 2018 yang menarik diri dari kesepakatan JCPOA tanpa alternatif konkret, diperparah oleh kegagalan pemerintahan Biden dalam menghidupkan kembali perundingan, telah membuat Iran kini memiliki stok material fisil yang cukup untuk memproduksi setidaknya 11 senjata nuklir.
Serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel pada 2025 memang merusak infrastruktur fisik, namun gagal menghapus cadangan uranium maupun pengetahuan teknis para ilmuwan Iran yang kini justru menggunakannya sebagai daya tawar politik.
Dalam eskalasi terbaru, Iran memberikan ultimatum tegas bahwa serangan militer lanjutan dari pihak luar akan direspon dengan peningkatan pengayaan uranium hingga mencapai tingkat kemurnian 90 persen, ambang batas utama untuk produksi senjata nuklir. Secara teknis, transisi dari pengayaan 60 persen ke 90 persen bukanlah hambatan besar bagi Iran karena hanya membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima minggu dengan kebutuhan ruang yang sangat minimal, sehingga sulit dideteksi melalui pengawasan satelit maupun serangan bom konvensional.
Kondisi ini menempatkan Donald Trump pada situasi dilematis; upaya untuk menekan Iran melalui cara-cara keras justru berisiko memicu Iran melampaui "garis merah" nuklir yang selama ini menjadi ketakutan utama komunitas internasional.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Red - Anno Domini Beats
#global #konflik ##kompascomlab #nuklir #iran #amerika #donaldtrump