JAKARTA, KOMPAS.TV - Di dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, terdapat dua jurnalis Republika yang kini hilang kontak setelah sempat mengirim video SOS.
Pemimpin Redaksi Andi Muhyiddin mengungkapkan, sejak awal dirinya sebenarnya berat memberikan izin kepada dua jurnalisnya untuk ikut dalam misi tersebut.
Menurut Andi, kedua jurnalis yang akrab disapa Abeng dan Todi itu memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi dan sudah mengikuti pelatihan sejak tahun lalu.
Ia menjelaskan, kontak terakhir diterima pada Senin 18 Mei, saat salah satu jurnalis Republika yakni Abeng mengirim video SOS ke grup internal misi Gaza.
Sementara itu, pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana menilai para relawan dalam misi tersebut sejak awal memang memahami risiko tinggi yang mereka hadapi.
Hikmahanto menjelaskan, misi Global Sumud Flotilla memiliki tiga tujuan utama, yakni mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza, menentang blokade Israel di perairan internasional, serta mengingatkan Israel terhadap hukum humaniter internasional.
Namun, ia juga menyoroti keterbatasan pemerintah Indonesia dalam memberikan perlindungan langsung kepada warga negara Indonesia di Israel karena tidak adanya hubungan diplomatik resmi antara kedua negara.
“Wajib dilindungi, tetapi ada keterbatasan dari pemerintah. Itu yang saya ingin garis bawahi, keterbatasan,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab polemik publik terkait desakan agar Indonesia menggunakan jalur Board of Peace atau BOP untuk melakukan komunikasi dengan Israel.
Hikmahanto bahkan menegaskan dirinya tidak sepakat Indonesia masuk ke forum tersebut sebelum hubungan diplomatik resmi dibuka.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/sxltbYzhYEA
#palestina #israel #indonesia
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/talkshow/670094/jurnalis-republika-ditangkap-israel-kirim-sos-terakhir-sebelum-hilang-kontak-satu-meja