Iran kini mengubah kalkulasi militernya secara drastis setelah sempat menerapkan strategi atrisi pada awal konflik Februari 2026.
Jika perang babak kedua benar-benar pecah, Teheran disebut tidak lagi mempersiapkan diri untuk konflik jangka panjang yang melelahkan, melainkan telah menyiagakan ratusan rudal untuk serangan kilat yang terkoordinasi guna menghantam titik paling vital yaitu infrastruktur energi di kawasan Teluk Arab.
Langkah ini merupakan respons atas keterlibatan diam-diam negara-negara Teluk dalam operasi gabungan AS-Israel, yang dianggap Iran sebagai pengkhianatan dan ancaman langsung terhadap kedaulatan mereka.
Selain mengancam infrastruktur energi Teluk yang dapat melambungkan harga minyak global, Iran kini mempertimbangkan pembukaan "front maritim kedua" di Selat Bab el-Mandeb, Yaman, melalui milisi Houthi yang didukungnya.
Jika skenario ini terwujud, Iran akan mampu menguasai dua jalur perdagangan energi dunia secara bersamaan yaitu Selat Hormuz di Timur dan Bab el-Mandeb di Barat yang secara teknis akan melipatgandakan tekanan ekonomi terhadap Presiden Trump.
Strategi "kartu baru" inilah yang diyakini menjadi alasan utama Trump menunda serangan besar-besaran yang sedianya dijadwalkan pada 19 Mei 2026, demi memberi ruang bagi negosiasi diplomatik yang diprakarsai oleh pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #iran #perangiran #amerika #iranvsamerika