Iran membuat Amerika Serikat dan negara-negara Arab di kawasan teluk tidak tenang. AS kini disebut panik setelah Menteri Energi Chris Wright mengungkapkan bahwa Iran hanya butuh hitungan minggu untuk mencapai level uranium tingkat senjata (90 persen). Hal itu diungkap Chris di depan kongres AS, Rabu (13/5/2026).
Di saat Washington bergulat dengan tudingan adanya ancaman nuklir, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Kuwait disebut menjadi sasaran sabotase senyap melalui penyusupan agen rahasia IRGC yang membawa drone dan bahan peledak. Aliansi Arab dalam pertemuan darurat di Riyadh menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak bisa dipisahkan, menanggapi klaim Iran yang menyebut aktivitas mereka hanya patroli maritim rutin.
Meskipun pemerintahan Trump mengeklaim militer Iran telah lumpuh, data intelijen terbaru justru menunjukkan bahwa 90 fasilitas rudal bawah tanah Iran telah kembali beroperasi dan 70 persen stok rudal mereka masih utuh.
Iran kini mulai menerapkan aturan main baru di Selat Hormuz dengan memperluas definisinya secara sepihak serta mewajibkan kapal asing membayar "tol" dan menyerahkan data awak. Strategi ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bertahan dari serangan AS, tetapi justru bergerak agresif mengunci jalur perdagangan dunia dengan kekuatan militer yang jauh lebih kokoh dari perkiraan Washington.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Future - Anno Domini Beats
#global #konflik ##kompascomlab #iran #amerika #selathormuz #asvsiran