JAKARTA, KOMPASTV - Dalam pertemuan, Presiden AS Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Trump menyebut Xi ingin membantu meredakan situasi dan menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka.
Di sisi lain, China juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Iran.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Yulius Purwadi Hermawan menilai situasi saat ini menunjukkan Iran sedang memainkan strategi mengulur waktu, sementara AS berada dalam tekanan politik domestik menjelang pemilu.
“Iran mengulur waktu, sedangkan AS tidak punya banyak waktu jelang pemilu,” kata Yulius dalam program Sapa Indonesia Pagi, Jumat (16/5/2026).
Menurut Yulius, Iran dan Amerika Serikat terikat pada hukum kebiasaan internasional yang mengatur kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menilai penyelesaian konflik tidak akan berlangsung cepat karena Iran kemungkinan menuntut kompensasi atas dampak perang dan tekanan yang mereka alami.
“Akan sangat panjang. Iran mencari alasan untuk mengganti biaya kerusakan dari perang,” ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Timur Tengah BRIN Nostalgiawan Wahyudhi menilai Iran saat ini berada di posisi yang cukup kuat dalam diplomasi internasional.
“Iran tahu dia di atas angin dalam diplomasi ini. Iran tidak akan melepaskan 47 tahun penderitaan, ini sebuah kesempatan berharga,” kata Nostalgiawan.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
Baca Juga Detik-detik WNA Dijambret di Bundaran HI hingga Jatuh Tersungkur di https://www.kompas.tv/nasional/669068/detik-detik-wna-dijambret-di-bundaran-hi-hingga-jatuh-tersungkur
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/nasional/669080/china-di-tengah-konflik-as-iran-mampukah-xi-bujuk-teheran-sapa-pagi